Munculnya ideologi Politik Islam di negara-negara mayoritas Muslim dimulai pada abad ke-19. Ini pertama kali muncul sebagai ideologi politik dalam istilah modern dengan tujuan kenegaraan dan dengan retorika anti-kolonialisme. Awal abad ke-20 dapat dikatakan sebagai Masa Keemasan Politik Islam di Timur Tengah dan Dunia Muslim pada umumnya. Kelompok-kelompok seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Jamaat-i Islam-i di Pakistan adalah pionir gerakan Islam. Gerakan-gerakan Islam di Timur Tengah adalah aktor-aktor lama dalam masyarakat namun merupakan aktor-aktor baru dalam politik. Namun, mereka kurang memiliki pengalaman dan teori politik untuk menerapkan moto mereka; “Islam adalah solusinya.”
Gagasan utama ketika pemberontakan dimulai pada tahun 2011 sebagian besar analis berkomentar bahwa pemberontakan ini akan mengakibatkan Republik Islam. Ditambah lagi dengan keyakinan umum bahwa jika skenario ini menjadi kenyataan, katakanlah Gerakan Islam berkuasa, maka hubungan Mesir dengan AS dan Israel akan berada dalam bahaya. Lalu muncul pertanyaan; mengapa Ikhwanul Muslimin mendukung Partai Kebebasan dan Keadilan membentuk aliansi yang disebut Aliansi Demokratik untuk Mesir yang memperoleh 47.2 persen suara, Blok Islam yang terdiri dari tiga partai. Partai Al Nour (sayap politik Al Dawa Al Salafiyya), Partai Keaslian dan Partai Pembangunan dan Pembangunan (sayap politik al-Gama'a, kelompok yang mengorganisir pembunuhan Anwar Sadat) memperoleh 27.8 persen suara pada pemilu tahun 2011 Jawaban atas pertanyaan ini terletak pada penindasan yang dilakukan oleh negara dan gerakan sosial Mesir, bukan melalui cara-cara politik dan militer serta tindakan amal yang dilakukan terhadap kaum muda, perempuan, dan pengangguran.
Yang juga perlu dipertanyakan adalah transisi kelompok tersebut, karena kita telah menyaksikan perubahan ideologi politik kelompok tersebut. Situasi Partai Nahda di Tunisia bisa dikatakan lebih stabil. Organisasi ini didirikan pada tahun 1981 dan dipengaruhi oleh Ikhwanul Muslimin Mesir. Mereka mendukung cara Islamisme modern daripada radikalisme. Pemimpin kelompok Rashid Al Ghannushi menyelesaikan pendidikannya di Sorbonne, dipenjarakan dengan hukuman seumur hidup pada tahun 1987 tetapi kemudian diasingkan ke Eropa dan sampai jatuhnya Ben Ali ia tinggal di London. Meskipun ada keraguan mengenai posisinya, dibandingkan dengan kelompok Islamis Mesir, partai ini lebih mempromosikan ideologi Islam moderat daripada radikalisme. Misalnya Ghannushi memberikan wawancara kepada Radio 4 dimana dia secara terbuka menyatakan bahwa “Kami tidak menginginkan negara agama. Kami menginginkan negara sipil yang sumber legitimasinya adalah rakyat, masyarakat.” Dia juga sering menyatakan pentingnya kasus Partai Keadilan dan Pembangunan pemerintah Turki saat ini. Hal ini juga membuka perdebatan baru mengenai penerapan model Turki di Timur Tengah yang menjadi topik kongres ini. Namun singkatnya, hal ini juga terlihat pada nama partai politik; terutama perbandingan dapat dilakukan antara “Partai Keadilan dan Pembangunan” di Turki dan “Partai Kebebasan dan Keadilan” di Mesir.
Hal lain yang perlu dibahas adalah persepsi dan perbandingan yang dilakukan saat protes Arab Spring. Perbandingan antara revolusi Mesir atau Tunisia pada tahun 2011 dan revolusi Iran pada tahun 1979 tidaklah masuk akal. Revolusi Iran dipimpin oleh pemimpin Islam terkemuka Ayatollah Khomeini di mana hampir semua kelompok oposisi berkumpul di sekelilingnya. Namun protes yang kita lihat di Mesir dan Tunisia sangat berbeda, pertama, tidak ada satu pun pemimpin yang mengumpulkan orang-orang di sekelilingnya seperti Khomeini di Iran. Selain itu, tuntutan para pengunjuk rasa tidak mencakup sistem Islam, melainkan bersatu dalam satu tujuan, yaitu menggulingkan diktator di negaranya. Kita juga bisa membandingkan slogan kedua protes tersebut. Di Iran orang-orang meneriakkan slogan yang sangat terkenal "Kemerdekaan, Kebebasan, Republik Islam" (Kemerdekaan, kebebasan dan Republik Islam). Sebaliknya, selama pemberontakan Arab, slogan-slogan seperti itu populer di kalangan pembangkang; “Ash Shab Yurid Isqat An-Nizam” (Rakyat ingin menjatuhkan rezim) dan “A'ish, Hurriya, Karama Insaniya,” (Roti, kebebasan, martabat manusia). Selain itu, kita juga melihat adegan persatuan, dalam semua aksi protes tersebut, di mana kelompok Muslim melaksanakan salat dengan perlindungan kelompok non-Muslim.
Kesimpulannya; baik akademisi maupun mahasiswa studi Timur Tengah perlu menghindari klasifikasi Timur Tengah sebagai “pengecualian” dalam politik dunia, terutama setelah revolusi Arab. Selain itu, jika tujuannya adalah untuk memahami sifat revolusi yang terjadi di dunia Arab, kita juga harus melihat dinamika lain, tidak hanya Gerakan Islam saja.
Tribun Turki



