Sebuah kemajuan terlihat dalam pemulihan hubungan antara Turki dan Israel, kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada konferensi pers, saluran berita TRT Haber melaporkan pada 31 Mei.
Hubungan antara Israel dan Turki memburuk setelah insiden Freedom Flotilla pada tahun 2010, ketika konvoi enam kapal, termasuk satu kapal berbendera Turki, mencoba mendekati Jalur Gaza dengan membawa bantuan kemanusiaan dan aktivis di dalamnya. Armada tersebut dihadang dan diserbu oleh pasukan Israel, menyebabkan delapan warga Turki terbunuh.
Erdogan mengatakan pada saat itu bahwa Israel harus meminta maaf atas insiden Freedom Flotilla, membayar kompensasi kepada keluarga mereka yang terbunuh dan mengakhiri blokade terhadap Jalur Gaza.
“Kami meminta maaf atas normalisasi hubungan, dan kami mendapatkannya,” kata Erdogan. “Pembayaran kompensasi juga akan segera berakhir. Syarat ketiga adalah pencabutan blokade Jalur Gaza. Palestina menghadapi masalah pasokan listrik dan air. Kami telah membuat beberapa proposal untuk menghilangkannya. Peristiwa berkembang ke arah yang positif. Jika kita bisa menyelesaikan permasalahan ini, Turki akan membangun sekolah dan rumah sakit di sana.”



