Davutoglu menggarisbawahi membangun kembali suasana demokrasi dan melindungi integritas wilayah Mali sebagai prioritas Turki.
Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu pada hari Jumat mengatakan bahwa Turki menentang intervensi sepihak di Mali, dan menambahkan bahwa upaya tersebut harus dilakukan di bawah naungan PBB.
Berbicara di Meja Editor Anadolu Agency pada hari Jumat, Davutoglu memberikan penilaian terhadap perkembangan terkini di Mali.
Davutoglu menyatakan bahwa di bagian selatan Afrika Utara, sebuah kelompok halus telah muncul seiring dengan perkembangan di Afrika Utara.
Mengingat situasi di Mali yang kritis, Davutoglu menyatakan bahwa Mali adalah negara pusat di kawasan Sahara, dan kota Timbuktu di mana terdapat tanda-tanda peradaban Turki, adalah tempat yang harus dilindungi.
“Kebijakan Turki terhadap Mali sudah jelas. Kami telah bekerja sama dengan Uni Afrika dan Organisasi Kerja Sama Islam dalam membangun kembali suasana demokrasi dan melindungi integritas wilayah Mali,” kata Davutoglu.
Menyinggung operasi militer Prancis di Mali, Davutoglu mengatakan, “Kami menganggap penting penyelesaian masalah ini terutama di Mali, dan bukan di Uni Afrika dan ECOWAS. Kapan pun isu-isu semacam ini diinternasionalkan, maka hal ini akan menjadi lebih rumit. Yang penting adalah melaksanakan upaya-upaya tersebut di bawah payung PBB. Tidak ada negara yang boleh melakukan intervensi sendiri atau dengan negara lain.”
Mengingat bahwa ia melakukan percakapan telepon dengan Sekretaris Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Ekmeleddin Ihsanoglu pada hari Kamis, Menteri Davutoglu mengatakan bahwa ia telah meminta dari Ihsanoglu agar masalah Mail harus menjadi agenda utama pada pertemuan puncak OKI bulan Februari di Kairo.
“Kami mengambil langkah resmi dengan menyelenggarakan pertemuan luar biasa yang juga dapat dihadiri oleh para menteri luar negeri, mengenai langkah-langkah apa yang harus diambil terhadap Mali. Kami meminta kepada komite eksekutif Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk mengumpulkan negara-negara anggota untuk pertemuan luar biasa mengenai Mali,” kata Davutoglu.



