“Apa yang dikatakan (Menteri Luar Negeri Turki Ahmet) Davutoglu merupakan kesalahan politik dan diplomatik yang mencolok,” kata menteri informasi tersebut di televisi pemerintah, seraya menambahkan bahwa diplomasi yang tidak jelas seperti itu bukanlah rahasia bagi siapa pun.
Lewatlah sudah masa Kesultanan Utsmaniyah dan Turki tidak bisa lagi menunjuk penguasa di Damaskus, Mekah, Kairo, dan Al-Quds. “Saya menyarankan pemerintah Turki untuk menyerahkan (kekuasaan) demi kepentingan tokoh-tokoh yang dapat diterima oleh rakyat Turki,” tambah Zoabi.
Pada hari Sabtu, Davutoglu menyuarakan dukungannya kepada Wakil Presiden Suriah Farouq al-Shara, dengan mengatakan bahwa negaranya “cenderung menerima Shara” menggantikan Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Menteri Turki mengatakan bahwa dia memandang Shara sebagai “orang yang berakal sehat”, tidak terlibat dalam “pembantaian di Suriah”.
Suriah telah mengalami kerusuhan sejak Maret 2011 dan banyak orang, termasuk sejumlah besar pasukan keamanan, tewas dalam kekacauan tersebut.
Damaskus menyalahkan penjahat, penyabot, dan teroris bersenjata atas kerusuhan tersebut, namun pihak oposisi menuduh pasukan keamanan berada di balik kekerasan tersebut.
Presiden Suriah Bashar al-Assad mengatakan pada bulan Agustus bahwa negaranya terlibat dalam pertempuran “penting dan heroik” yang akan menentukan nasib bangsanya.
(Tekan TV)


