
Washington Tolak Resolusi Gencatan Senjata Gaza di PBB
Dalam sebuah langkah kontroversial, Amerika Serikat telah memveto sebuah undang-undang Resolusi Dewan Keamanan PBB menyerukan tindakan segera Gencatan senjata di Gaza dan akses bantuan kemanusiaan tanpa batas. Sementara 13 dari 15 anggota dewan mendukung langkah tersebut, Washington berdiri sendiri dalam penentangannya.
Para pejabat AS berpendapat bahwa resolusi ini melemahkan negosiasi diplomatik yang rapuh dan gagal mengatasi berbagai permasalahan utama, termasuk Pelucutan senjata Hamas dan pembebasan sandera. Pemungutan suara dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran atas krisis kemanusiaan yang terjadi di daerah kantong yang terkepung itu.
Krisis Kemanusiaan Semakin Parah di Gaza
Veto ini muncul ketika Gaza menghadapi apa yang disebut PBB sebagai keadaan darurat kemanusiaan yang “bencana”. Resolusi tersebut menuntut agar Israel mencabut semua pembatasan bantuan dan memungkinkan penyaluran bantuan yang aman oleh lembaga internasional. Namun, blokade Israel yang terus berlanjut telah membatasi akses terhadap makanan, obat-obatan, dan air bersih.
Para kritikus mengatakan blokade bantuan mengubah kebutuhan dasar untuk bertahan hidup menjadi senjata politik. PBB dan organisasi bantuan bersikeras mendistribusikan bantuan melalui saluran netral, sambil memperingatkan bahwa kelaparan kini menjadi ancaman nyata dan terus meningkat bagi 2 juta penduduk Gaza.
Cara Cerdas Berbisnis di Turki
Diplomasi AS dan Tuduhan Bias
Pemerintahan Biden sebelumnya memveto resolusi serupa pada bulan November, dan penolakan terbaru ini telah memicu tuduhan baru Kecenderungan AS terhadap IsraelMeskipun ada seruan untuk bersikap netral, kebijakan Amerika terus melindungi Israel dari pengawasan, bahkan saat kekerasan dan penderitaan meningkat.
Baru-baru ini, inisiatif bantuan yang didukung AS dan Israel dihentikan setelah puluhan warga Palestina terbunuh saat mencari makanan. Saksi mata dan kelompok kesehatan menuduh pasukan Israel menembaki warga sipil. Sementara Israel mengklaim Hamas memanipulasi distribusi bantuan, PBB mengatakan sistem saat ini tidak memiliki imparsialitas dan melanggar norma-norma internasional.
Kekhawatiran Hukum dan Etika yang Disampaikan Pejabat PBB
Resolusi tersebut juga menyerukan pemulihan layanan vital di Gaza berdasarkan hukum humaniter internasional. Namun, serangan Israel yang berkepanjangan—didukung oleh militer dan dukungan diplomatik AS—telah menghancurkan rumah sakit, sekolah, dan sistem air. Para pemimpin PBB menekankan bahwa pemandangan sehari-hari warga sipil Palestina yang ditembak atau dibiarkan mati kelaparan harus segera diakhiri.
Kepala Kemanusiaan PBB Tom Fletcher mendesak peningkatan bantuan yang mendesak dan menekankan bahwa distribusi harus tetap di bawah kendali PBB untuk menegakkan netralitas dan legalitas.
Akar Penyebab dan Jalan ke Depan
Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menentang resolusi tersebut, dengan alasan resolusi tersebut gagal mengatasi agresi Hamas. Namun, para pakar global berpendapat bahwa Pendudukan Israel, blokade, dan pelanggaran berulang terhadap hukum internasional adalah akar penyebab penderitaan Gaza.
Meskipun ada 14 resolusi mengenai Gaza sejak perang dimulai, hanya empat yang telah disahkan. Veto terbaru mencerminkan jurang pemisah yang dalam antara konsensus internasional dan kebijakan AS-Israel, yang menyebabkan jutaan orang di Gaza terperangkap dalam krisis.



