(Ditulis dalam bahasa Inggris)
Mengapa Agnostisisme Memikat Pikiran Anak Muda? Mengapa Hal Itu Dapat Menyesatkan Mereka?
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak anak muda yang mengidentifikasi diri sebagai agnostik, menjauhkan diri dari kepercayaan tradisional dan bergerak menuju ketidakpastian dalam hal-hal yang berkaitan dengan iman. Namun, apa sebenarnya agnostisisme itu, dan apakah itu benar-benar memenuhi syarat sebagai sebuah kepercayaan? Atau apakah itu sekadar sebuah pemikiran—kesimpulan yang dicapai melalui penalaran, tetapi berpotensi cacat?
Memahami Kepercayaan dan “Berita”
Untuk membahasnya, penting untuk terlebih dahulu mendefinisikan apa arti keyakinan. Keyakinan adalah penerimaan "berita" atau laporan dari suatu sumber, tanpa perlu bukti. Berita, dalam pengertian ini, adalah informasi yang disampaikan oleh seseorang yang telah menyaksikan atau mengalami suatu peristiwa. Itu adalah cerita yang diceritakan oleh seseorang yang berada di sana, dan meskipun kita dapat menilai keandalan sumbernya, kita tidak dapat mengulangi atau membuktikan secara ilmiah pengalaman mereka.
Terkait berita, kita punya dua pilihan: memercayainya atau tidak. Kita mungkin mencoba memverifikasinya dengan memeriksa saksi lain, tetapi pada akhirnya, hal itu bergantung pada kepercayaan pada orang yang memberikan keterangan. Kepercayaan yang sejati, dengan demikian, didasarkan pada kepercayaan ini—tidak memerlukan bukti dalam pengertian ilmiah, melainkan keputusan untuk menerima atau menolak berita dari seorang saksi.

Apakah Agnostisisme sebuah Kepercayaan?
Mari kita terapkan gagasan ini pada agnostisisme. Tidak seperti kepercayaan, agnostisisme tidak memiliki laporan, saksi, atau peristiwa tertentu yang dapat diterima atau ditolak. Agnostisisme tidak memiliki dasar yang jelas dan dapat dinarasikan yang biasanya dibutuhkan oleh kepercayaan. Ini berarti agnostisisme, alih-alih menjadi kepercayaan, lebih dekat dengan "pikiran"—kesimpulan yang diperoleh semata-mata dari penalaran.
Bisakah Pikiran Saja Mengungkap Kebenaran?
Meskipun berpikir itu penting, ia memiliki keterbatasan, terutama untuk hal-hal yang berada di luar pengalaman langsung. Kita tidak dapat menggunakan nalar untuk mengetahui apa yang belum kita lihat atau dengar. Bayangkan, misalnya, Anda ingin mengetahui nama ayah saya. Anda tidak dapat menyimpulkannya hanya melalui pikiran, tidak peduli seberapa lama Anda mencoba. Tanpa saya memberi tahu Anda, hal itu tetap tidak diketahui—sesuatu yang hanya dapat diungkapkan oleh "berita".
Artikel yang Direkomendasikan: Teori Tatanan Global Baru: Bagaimana jika orang Rusia masuk Islam?
Dalam pengertian ini, agnostisisme dibatasi oleh sifatnya sebagai sebuah pemikiran. Ia tidak memiliki laporan atau saksi, sehingga hanya mengandalkan akal budi saja, yang tidak dapat sepenuhnya mengungkapkan realitas di luar apa yang kita amati secara langsung. Tanpa sumber atau berita, agnostisisme hanya dapat berhipotesis, sehingga tidak memiliki kebenaran yang disediakan oleh berita aktual.
Batasan Agnostisisme
Jika agnostisisme hanya sekadar pemikiran, apakah ia masih dapat menghasilkan kebenaran? Tidak untuk apa yang berada di luar pengetahuan atau pengalaman langsung. Kita tidak dapat menggunakan nalar untuk memahami hal yang tak terlihat atau yang tidak diketahui. Untuk misteri-misteri ini—tujuan kita, atau kemungkinan realitas yang lebih tinggi—kita memerlukan sesuatu yang lebih: sumber pengetahuan, laporan, atau “berita” yang dapat kita pilih untuk dipercaya.
Artikel yang Direkomendasikan: Kebodohan dari Kebodohan
Agnostisisme, kemudian, menemui keterbatasan yang signifikan. Agnostisisme mencoba menggunakan penalaran semata untuk menjawab pertanyaan tentang eksistensi yang memerlukan sesuatu di luar pemikiran. Agnostisisme menjadi pendekatan yang tidak lengkap karena mengabaikan potensi untuk percaya pada berita atau laporan tepercaya yang memberikan pemahaman di luar apa yang dapat kita lihat.
Agnostisisme dan Pencarian Makna
Meningkatnya agnostisisme di kalangan anak muda mencerminkan pencarian jawaban tanpa menerima secara membabi buta apa yang belum diverifikasi. Namun, dengan mengabaikan keyakinan—kepercayaan pada informasi di luar bukti—agnostisisme mungkin mengabaikan jalur penting menuju pemahaman. Sama seperti nama ayah saya yang akan tetap tidak Anda ketahui tanpa saya memberi tahu Anda, banyak pertanyaan tentang keberadaan mungkin tetap tertutup tanpa mempercayai sumbernya.
Kepercayaan, yang berakar pada penerimaan berita atau laporan, dapat menawarkan jembatan menuju hal yang tak terlihat, sementara agnostisisme, yang hanya mengandalkan penalaran, berisiko berputar-putar di sekitar pertanyaan yang sama tanpa penyelesaian. Kepercayaan mengajak kita ke dalam pemahaman yang melampaui bukti, sementara agnostisisme meninggalkan kita dengan pikiran yang tidak dapat sepenuhnya memuaskan misteri kehidupan dan keberadaan.
Penulis: NECIP MUZAFFER



