Afghanistan telah menutup tiga universitas negeri besar di ibu kota, Kabul, selama lebih dari seminggu setelah bentrokan sektarian yang menyebabkan satu mahasiswa tewas dan hampir 30 lainnya terluka.
Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Sediq Sediqqi mengatakan pada tanggal 25 November bahwa Kementerian Pendidikan Tinggi Afghanistan menutup universitas-universitas tersebut selama 10 hari sebagai “tindakan pencegahan.”Bentrokan tersebut meletus pada 24 November setelah sebuah ritual yang menandai hari raya Asyura diganggu oleh mahasiswa Sunni garis keras. Siswa saling serang dengan tongkat dan batu.
Ali Akbar, seorang Muslim Syiah Afghanistan dan seorang mahasiswa di Universitas Kabul, mengklaim dua rekan mahasiswa Syiahnya tewas ketika mereka didorong keluar dari jendela asrama mereka.
“Bentrokan dimulai antara Syiah dan Sunni. Beberapa saudara Syiah kami berada di asrama ketika [Sunni] memulai perkelahian sektarian dengan mereka dan mendorong dua saudara Syiah kami dari lantai empat dan mereka berdua syahid,” kata Akbar.
Klaimnya belum dikonfirmasi.
Panggilan Untuk Menahan Diri
Kekerasan terutama terjadi di asrama universitas yang menampung mahasiswa dari provinsi tersebut.
Para pemimpin politik, termasuk perwakilan dari komunitas Syiah, telah menyerukan agar masyarakat menahan diri setelah bentrokan tersebut.
(RFE/RL)



